feeling good

August 12th, 2008 by mao1876
 

Anthony newley, leslie bricusse

Birds flying high you know how I feel
Sun in the sky you know how I feel
Reeds driftin on by you know how I feel

(refrain:)
Its a new dawn
Its a new day
Its a new life
For me
And Im feeling good

Fish in the sea you know how I feel
River running free you know how I feel
Blossom in the tree you know how I feel

(refrain)

Dragonfly out in the sun you know what I mean, dont you know
Butterflies all havin fun you know what I mean
Sleep in peace when day is done
Thats what I mean

And this old world is a new world
And a bold world
For me

Stars when you shine you know how I feel
Scent of the pine you know how I feel
Oh freedom is mine
And I know how I feel

Mom.. Can i Trust the Government?

July 31st, 2008 by mao1876

bukan propaganda, karena ini copy and paste
tapi.. sedikit merenung di sore hari
diantara obat flu dan urge to control my afternoon caffeine..:)

Orang mengira Pemerintah menanggung rugi hingga Rp 123 trilyun per
tahun jika harga BBM tidak naik. Padahal kenyataannya pemerintah dengan
harga minyak Internasional mencapai US$ 125/barrel tetap untung Rp 165
trilyun per tahun jika manajemennya benar karena impor sebenarnya
kurang dari 20% kebutuhan minyak kita. Sisanya bisa ditutupi dengan
produksi dalam negeri.

Kemudian Pemerintah selalu menganggap rakyat Indonesia boros BBM.
Berbagai iklan di televisi selalu menyuruh rakyat hemat. Kenyatannya
pemakaian BBM di Indonesia menempati urutan 116 di bawah negara Afrika
seperti Namibia dan Botswana.

Berikut adalah daftar harga minyak di seluruh dunia. Di Venezuela
harganya hanya Rp 460/liter, di Saudi Arabia Rp 1.104/liter, di Nigeria
Rp 920/liter, di Iran Rp 828/liter, di Mesir Rp 2.300/liter, dan di
Malaysia Rp 4.876/liter. Rata-rata pendapatan per kapita di
negara-negara tersebut lebih tinggi dari kita. Sebagai contoh Malaysia
sekitar 4 kali lipat dari negara kita.

Anehnya di negara kita premium yang saat ini harganya Rp 4.500/liter
akan dinaikkan hingga Rp 6.000/liter sementara harga Pertamax sekitar
Rp 8.700/liter.

Jelas bedanya antara negara yang mementingkan kepentingan rakyat dengan
negara Neoliberalis/Pro Spekulan Pasar yang hanya mengikuti harga
minyak Internasional.

AS dan Cina adalah importer minyak terbesar dan ketiga di dunia *1.
Tapi harga minyak di AS cuma Rp 8.464/liter sementara Cina Rp
5.888/liter.. Padahal penduduk kedua negara lebih besar dari Indonesia
(Cina penduduknya 1,3 milyar) .

Indonesia meski premium cuma Rp 4.500 (yang akan dinaikkan jadi Rp
6.000/liter) namun harga Pertamax mencapai Rp 8.700/liter. Lebih tinggi
dari harga di AS. Padahal UMR di Indonesia cuma US$ 95/bulan sementara
di AS US$ 980/bulan. Jadi Indonesia ini benar-benar mengikuti kemauan
spekulan pasar/kaum Neoliberalis.

Dengan memakai patokan harga Internasional US$ 125/barrel maka rakyat
AS yang UMRnya US$ 980/bulan masih bisa menabung US$ 955/bulan
sementara rakyat Indonesia yang UMRnya hanya US$ 95/bulan harus ngutang
sebanyak US$ 30/bulan. Memang rakyat miskin tidak punya mobil mewah,
tapi mereka kan tetap harus pakai angkot atau sepeda motor. Dan itu
pakai BBM!

Kenaikan BBM yang terjadi karena alasan subsidi BBM Rp 126 trilyun
sudah terlalu besar dan bisa dialihkan menjadi subsidi langsung ke
bidang pangan dan kesehatan untuk rakyat. Selain itu selisih harga BBM
subsidi dan non subsidi hendaknya tak lebih dari Rp 1000/liter saja
kata mereka.

Meski sekilas benar, namun wacana seperti ini tak lebih dari penipuan yang akan membuat rakyat semakin menderita.

Pertama-tama kenaikan harga BBM ini bukan cuma sekali-dua kali. Tapi
sudah terjadi berkali-kali dari harga premium Rp 450/liter, kemudian
naik jadi Rp 700, rp 1.000, 1.300, hingga jadi Rp 4.500/liter seperti
sekarang. Toh apakah pangan jadi lebih murah? Beras raskin saja
harganya saat ini jadi Rp 2.500/kg. Lebih mahal ketimbang beras biasa
sebelum kenaikan karena seiring kenaikan harga BBM, maka harga pangan
otomatis akan naik sebab pangan itu didistribusikan pakai kendaraan.
Bukan digemblok dengan jalan kaki saja…

Kemudian apakah saat ini kesehatan jadi terjangkau oleh rakyat?
Jangankan sehat, rakyat lapar saja pemerintah tidak mampu mengatasinya.
Diperkirakan saat ini 5 juta BALITA mengalami kurang gizi/busung lapar
karena kelaparan.

Satu alasan kenapa subsidi langsung untuk rakyat miskin tidak jalan
adalah karena kriteria orang miskin di Indonesia tidak tepat. Terlalu
rendah. Kriteria orang miskin di Indonesia adalah jika pendapatan
mereka kurang dari Rp 167 ribu per bulan atau hanya Rp 5.500 per hari
(kurang dari US$ 0,6/hari). Padahal setahu saya biaya kontrak/indekos
saja paling murah Rp 100 ribu/bulan (orang miskin jarang punya rumah
sendiri). Kemudian biaya makan paling tidak rp 3.000 sekali makan.
Kalau 3 x makan biayanya Rp 9.000. Dengan garis kemiskinan yang sangat
rendah ini, jumlah orang miskin di Indonesia ada 37 juta jiwa. Jika
gaji anda Rp 200 ribu/bulan, menurut kriteria ini anda orang kaya dan
tidak layak disubsidi!

Sementara menurut standar Bank Dunia, garis kemiskinan absolut adalah
US$ 1/hari untuk satu orang. Sementara Garis kemiskinan moderat US$
2/hari. Dengan standar Bank Dunia, jumlah orang miskin absolut di
Indonesia ada 62 juta jiwa. Dari kriteria garis kemiskinan ini saja
sudah ada 25 juta rakyat miskin absolut yang tidak dapat bantuan dan
bisa kelaparan!

Bahkan di Kalsel saja 50% penduduk miskin belum terdata! Jadi harus
diakui pemerintah kita tidak mampu menyalurkan bantuan langsung.

Jika memang ada yang tidak berhak menikmati subsidi BBM, harusnya
pemerintah melarang pihak yang tidak berhak untuk menikmati subsidi
BBM. Caranya yang boleh beli premium bersubsidi di pom bensin adalah
kendaraan angkutan umum plat kuning, kendaraan truk/pick-up angkutang
pangan. Kalau kendaraan pribadi seperti sedan atau minibus seperti
kijang langsung dilarang membeli premium subsidi. Mereka harus beli
pertamax atau premium non subsidi. Sementara kendaraan yang dipakai
rakyat menengah bawah seperti angkutan umum dan angkutan pangan harus
dapat Subsidi Langsung BBM. Harusnya sederhana kan?

Tidak semua pemakai BBM adalah kelompok menengah ke atas. Supir-supir
angkot, bis, mikrolet beserta para penumpangnya umumnya golongan
menengah bawah. Jika pemerintah tidak mampu menyalurkan bantuan
langsung subsidi BBM melalui pom bensin yang ada, apalagi menyalurkan
bantuan subsidir langsung beras, migor, dsb ke puluhan juta rakyat
kecil.

Apakah nanti kendaraan plat kuning akan menjual premium subsidi ke
perusahaan? Caranya tidak perlu pakai smart card yang efektivitasnya
masih meragukan. Cukup dengan membatasi pembelian 10 liter per antri.
Jadi untuk mendapat 40 liter mereka harus antri 4 kali. Bisa juga
dicIni sudah cukup untuk membatasi penyalah gunaan. Bisa juga petugas
POM memberi tanda/cat yang baru kering 24 jam kemudian pada mobil
pembeli BBM bersubsidi sehingga tidak antri berkali-kali.

Alasan selisih harga terlalu besar dipakai untuk menaikan harga BBM
hanya berakibat harga akan naik di luar jangkauan rakyat. Selisih Rp
1.000 untuk rakyat yang kaya dengan miskin itu terlalu kecil karena
jurang antara kaya dan miskin sangat lebar di Indonesia. Orang kaya
seperti Aburizal Bakrie punya harta sampai Rp 50 trilyun per tahun.
Sementara keluarga Basse di Makasar yang mati kelaparan penghasilannya
hanya Rp 150 ribu hingga 300 ribu per bulan.

Penaikan harga BBM akan mengakibatkan seluruh harga barang naik. Dan
naiknya bukan cuma 1-3% seperti ramalan sebagian ”Ahli Ekonomi”, tapi
lebih dari itu (kenaikan pangan saja saat ini mencapai 100% lebih).
Subsidi pangan otomatis akan naik. Perusahaan-perusahaan yang saat ini
hidup bagai zombie akan banyak yang gulung tikar dan pengangguran akan
merajalela. Rakyat makin menderita.

Subsidi Langsung berbagai pangan seperti beras raskin, minyak goreng,
minyak tanah, dsb akhirnya justru menghabiskan waktu rakyat. Rakyat tak
dapat bekerja atau berusaha karena harus antri berjam-jam untuk
mendapatkan beras , migor, atau pangan lain yang lebih murah. Terkadang
ada Balita yang tergencet karena ibunya berebut beras raskin.
Pemandangan seperti inikah yang diinginkan oleh orang-orang yang pro
kenaikan harga BBM?

Sesungguhnya meski harga minyak naik sampai US$ 200/barrel pun
Indonesia masih tetap untung karena produksi minyak domestik Indonesia
jauh lebih besar dari impor dan biaya mendapatkan BBM hanya US$
15/barrel (Rp 870/liter).

Jika pemerintah ingin mencabut subsidi, sebaiknya pemerintah mencabut
subsidi sekitar Rp 60 trilyun dalam bentuk bunga SBI dan ORI bagi orang
kaya.

Rakyat sudah mensubsidi pemerintah sebesar Rp 500 trilyun dalam bentuk
pajak sehingga para pejabat bisa menikmati gaji besar, mobil, dan rumah
mewah. Oleh karena itu tidak sepantasnya para pejabat meributkan
”subsidi” BBM senial Rp 126 trilyun. Pemerintah cukup melarang pemilik
mobil pribadi untuk beli premium bersubsidi. Ini sederhana sekali.

Indonesia merupakan eksportir minyak mentah terbesar di kawasan
Australasia. Lebih separuh minyak yang kita produksi diekspor ke luar
negeri.

Indonesia juga merupakan eksportir LNG terbesar di dunia. Indonesia
mengekspor 70% produk batubara. Energi tersebut diekspor ke Jepang,
Korsel, Taiwan, dsb. Jadi energi Indonesia memang diabdikan untuk
Jepang, Korsel, Taiwan, dsb. Bukan untuk rakyat Indonesia.

Penyebabnya adalah ketidakmampuan pengelolaan energi nasional oleh pemerintah.

Dari segi cadangan energi, Indonesia memiliki batu bara yang bisa
diproduksi sebanyak 19,3 miliar ton, cadangan gas 182 triliun kaki
kubik, dan cadangan minyak mentah 8 miliar barrel. Dari jumlah itu,
jika tidak ada eksplorasi untuk menemukan cadangan baru batu bara hanya
cukup untuk 147 tahun, gas bertahan hanya untuk 61 tahun, bahkan minyak
bumi hanya mampu bertahan untuk kebutuhan 8 tahun.

Produksi batu bara Indonesia tahun ini 153,7 juta ton dan sekitar 70
persen diekspor. Produksi minyak bumi, termasuk kondensat, tahun ini
diproyeksikan kurang dari 1 juta barrel per hari dan sekitar 500.000
barrel diekspor. Produksi gas alam Indonesia tahun 2005 tercatat 8,13
miliar kaki kubik per hari dan sekitar 58,4 persen diekspor dalam
bentuk gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), elpiji, dan melalui
pipa.

Jadi dengan kebutuhan BBM 1,2juta bph (barel per hari) dan hasil
produksi BBM di Indonesia 1 juta bph (dengan biaya < US$ 15/brl),
Indonesia hanya mengimpor 0,2 juta bph dengan biaya Internasional
ditambah dengan US$ 15/barel.

Dengan hitungan:

Produksi sendiri 1.000.000 barel dengan biaya produksi US$ 15 dijual
US$ 77/brl (Rp. 4500/ltr) maka untung pemerintah adalah Rp.
62.000.000/hari

Impor 200.000 barel (kekurangan dari kebutuhan total) seharga US$
140/brl di jual US$ 77/brl (Rp. 4500/ltr) maka kerugian pemerintah
adalah -Rp. 12.600.000/hari

Maka jumlah yang di dapat adalah Rp. 62.000.000 - Rp. 12.600.000 = Rp. 49.400.000

Maka pemerintah Indonesia dengan harga Rp 4.500/liter (US$ 77/brl)
untung US$ 49,4 juta per hari atau Rp 165,8 Trilyun dalam setahun
(1US@=Rp 9.200).

Pemerintah Untung Rp 165,8 Trilyun!

Bohong besar jika bilang Pemerintah rugi Rp 123 Trilyun!

Jawaban Kwik Kian Gie (KKG) Tentang Berbagai Tanggapan di koraninternet

Saya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian yang diberikan
kepada tulisan-tulisan saya di KoranInternet. Perhatian tersebut
berwujud sangat banyaknya tanggapan, komentar, dukungan, kritik dan
pertanyaan.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada para pemberi
komentar secara individual, rasanya akan lebih fokus, lebih efisien dan
lebih mengenai sasaran kalau saya memberikan jawaban per topik sebagai
berikut.


KKG IKUT MENAIKKAN HARGA BBM KETIKA MENJABAT MENKO DALAM KABINET ABDURRACHMAN WAHID

Saya menjadi anggota kabinet dua kali. Yang pertama dalam Kabinet
Presiden Abdurrachman Wahid (Gus Dur) sebagai Menko EKUIN. Dalam
periode ini Kabinet Gus Dur tidak pernah menaikkan harga BBM.

Masih dalam Kabinet Gus Dur, harga BBM dinaikkan dua kali ketika Menko
EKUIN dijabat oleh Dr. Rizal Ramli, yaitu pada tanggal 1 Oktober 2000
dan tanggal 16 Juni 2001.

Namun yang saya ketahui, pertimbangan menaikkan harga tidak mengacu
pada harga minyak mentah yang terbentuk di New York Mercantile
Exchange, melainkan atas dasar hikmah kebijaksanaan dengan pertimbangan
kepatutan, daya beli rakyat dan nilai strategisnya BBM.

KABINET MEGAWATI MENAIKKAN HARGA BBM DENGAN KKG DI DALAMNYA

Presiden Megawati pernah menaikkan dan juga menurunkan harga BBM. Dalam
keseluruhan perundingan tentang keputusan tersebut saya tidak pernah
dilibatkan. Memang tidak perlu dilibatkan, karena Presiden mempunyai
hak prerogatif memutuskan apa saja. Kedudukan saya sebagai Menneg
PPN/Kepala Bappenas dianggap tidak relevan untuk ikut menentukan
perubahan harga BBM.

Namun ketika masalah kemungkinan harga BBM dinaikkan oleh Presiden
Megawati ramai dibicarakan, saya dimintai komentar oleh sebuah TV, dan
saya katakan bahwa saya tidak menyetujuinya. Maka terjadi hal yang oleh
banyak orang dianggap aneh, karena Menteri dalam Kabinet Megawati tidak
menyetujui rencana kenaikan harga BBM dari Presidennya sendiri. Bapak
Taufik Kiemas langsung menelpon saya, marah-marah melalui telpon, dan
saya katakan bahwa saya tidak mau berbicara bohong. Kalau kelakuan saya
tidak dapat diterima, saya bersedia dipecat setiap saat.


SUBSIDI MEMANG SAMA DENGAN PENGELUARAN UANG RIIL, KARENA KITA SUDAH MENJADI IMPORTIR NETO

Memang benar bahwa jumlah produksi yang menjadi milik pihak Indonesia
sudah lebih kecil dibandingkan dengan konsumsinya. Maka kekurangannya
harus diimpor, dan untuk impor ini kita harus membayarnya dengan harga
dunia yang sudah sangat tinggi. Jumlah ini kita hitung sebagai faktor
pengurang likuiditas (uang tunai).

Untuk minyak yang berasal dari perut bumi Indonesia yang menjadi hak
bangsa Indonesia, setelah dikurangi dengan haknya kontraktor asing,
kita jual dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan harga
minyak mentah di pasar internasional. Namun uang tunai yang dikeluarkan
untuk menyediakan bensin premium hanya Rp. 630 per liter. Dijual Rp.
4.500 per liter (sebelum kenaikan harga terakhir). Jadi untuk setiap
liternya kelebihan uang tunai sebesar Rp. 3.870. Ini dijumlah dan
dibandingkan dengan jumlah uang tunai yang harus kita keluarkan untuk
mengimpor kekurangan minyak dengan harga internasional yang sangat
tinggi.

Menurut perhitungan kasar dan perhitungan simulasi yang prinsipiil,
jumlah uang tunainya masih kelebihan. Angka-angka dan perhitungannya
sudah dimuat dalam KoranInternet yang sekarang masih ditayangkan.

Jadi walaupun ada keharusan mengimpor sebagian minyak mentah maupun
bensin dengan harga internasional, kita masih kelebihan uang kalau
harga didasarkan atas US$ 120 per barrel.


PERHITUNGAN KKG TERLAMPAU SEDERHANA

Memang betul. Perhitungan saya adalah perhitungan simulatif yang
sifatnya menunjukkan prinsip dan pengertian kata “subsidi” yang tidak
sama dengan uang keluar. Subsidi adalah perbedaan antara harga yang
dibentuk oleh New York Mercantile Exchange (NYMEX) dan yang
diberlakukan untuk rakyat Indonesia. Yang diberlakukan buat rakyat
Indonesia sudah menghasilkan kelebihan uang tunai.

Maka kalaupun subsidi harus diartikan sebagai kerugian, sifatnya
kerugian kesempatan atau opportunity loss, bukan kerugian uang tunai
atau real cash money loss.

Saya mengetahui persis bahwa perhitungan harga pokok minyak sangat
rumit, karena produknya yang begitu banyak. Ada avtur, pertamax,
premium, minyak tanah. Lantas masih ada produk sampingan yang menjadi
bahan bakunya industri petro kimia. Lantas ada kebijakan yang sebagian
diekspor dan hasil uangnya dipakai untuk mengimpor lagi dan sebagainya.
Namun semua data ini tidak pernah bisa diperoleh.

Maka saya menempuh jalan apa yang dinamakan method of diminishing
abstraction. Saya melakukan abstraksi yang sederhana hanya untuk
menunjukkan bahwa kata “subsidi” yang diidentikkan dengan uang tunai
yang harus dikeluarkan tidak benar. Jadi dalam rangka method of
diminishing abstraction saya hanya membangun tengkoraknya. Melengkapi
tengkorak dengan semua daging-dagingnya, atau putting the flesh on the
bones adalah tugas mereka yang mempunyai keseluruhan data dan angkanya.

Saya juga bisa dan mampu. Tetapi tidak pernah diberi kesempatan
memiliki semua perkiraan buku besar pembukuan di Pertamina dan di
Departemen Keuangan yang membukukan semua hal ikhwal tentang minyak.


MENGAPA DALAM TABEL II ARTIKEL TERDAHULU JUMLAH SEBESAR RP. 205,32 TRILYUN DITAMBAHKAN LAGI? ITU KAN SUDAH HILANG?

Jumlah sebesar Rp. 205,32 trilyun dalam Tabel II artikel saya terdahulu
adalah jumlah yang dibayarkan oleh Pertamina kepada Departemen
Keuangan. Ini pemasukan uang tunai buat Departemen Keuangan.

Kalau kita mengangggap baik Pertamina dan Departemen Keuangan milik
rakyat Indonesia, dan kita menghitung apakah rakyat Indonesia
seluruhnya, atau bangsa Indonesia memperoleh surplus atau menderita
defisit, uang berasal dari rakyat yang ada di Departemen Keuangan harus
ditambahkan.


DARI EKSPLOITASI MINYAK YANG ADA DALAM PERUT BUMI INDONESIA KITA MEMANG
KELEBIHAN UANG TUNAI. TETAPI ITU DIBUTUHKAN UNTUK PEMBIAYAAN
INFRASTRUKTUR DAN POS-POS LAINNYA DALAM APBN

Boleh saja, tetapi ini berarti ada pengakuan bahwa yang diartikan
dengan subsidi bukan uang keluar untuk menutup defisit secara tunai.

Menjelaskannya kepada rakyat tanpa bohong dan tanpa menyesatkan
haruslah sebagai berikut : “Eksploitasi minyak yang ada dalam perut
bumi Indonesia memberikan keuntungan dalam bentuk uang tunai. Setiap
kali harga BBM dinaikkan, kelebihan uang tunai ini bertambah.
Memperoleh pemasukan uang tunai dengan menaikkan harga BBM lebih mudah
ketimbang menaikkan hasil pajak. Maka mumpung ada harga internasional
yang membubung terus, ini kita jadikan alasan untuk menaikkan harga BBM
setinggi-tingginya sampai sama dengan harga minyak di pasar
internasional. Kelebihan uang yang banyak kita pakai untuk membayar
utang beserta bunganya, pembangunan infrastruktur, memberikan Bantuan
Tunai Langsung (BLT), memberikan beasiswa dan sebagainya. Akibat dari
kenaikan BBM yang terus menerus sesuai dengan harga minyak mentah di
pasar internasional memang menaikkan harga dari barang dan jasa
lainnya. Tetapi dampaknya hanya demo yang akan surut dengan sendirinya.
Bahwa rakyat akan menderita karena daya belinya terkuras, itu kita
kompensasi dengan BLT.”

Jangan mengatakan bahwa subsidi sama dengan uang keluar dalam jumlah besar yang membuat APBN jebol. Itu menyesatkan !


BUKAN HANYA MENYESATKAN, TETAPI MELANGGAR KONSTITUSI

Mencari uang sebanyak-banyaknya dengan cara menjual minyak mentah milik
rakyat Indonesia kepada rakyat Indonesia dengan harga yang
setinggi-tingginya, dan harus selalu sama dengan harga yang terbentuk
di NYMEX dilarang oleh Putusan Perkara oleh Mahkamah Konstitusi Nomor
002/PUU-I/2003 tanggal 15 Desember 2004.

Baca artikel tentang pelanggaran Konstitusi ini dalam KoranInternet yang sekarang sedang menayangkannya.

Harga minyak mentah sebagai barang yag strategis mempunyai dampak
berantai pada semua barang-barang kebutuhan pokok dan barang apa saja.
Maka cara menentukannya harga tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada
mekanisme pasar NYMEX. Caranya menentukan harga adalah atas dasar
hikmah kebijaksanaan yang selalu mengacu pada kepatutan, daya beli
masyarakat dengan pemahaman sepenuhnya bahwa minyak sangat strategis
untuk pembangunan ekonomi seluruhnya.

Itulah sebabnya Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa pasal 28 ayat (2)
dan ayat (3) Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang Migas
bertentangan dengan UUD kita. Baca artikel tentang hal ini yang sedang
tertayangkan.

Oleh Kwik Kian Gie

burung kertas..

March 26th, 2008 by mao1876

Classic_origami_crane_by_everlastingdrea

The Art of Over Training

March 25th, 2008 by mao1876

The Art of Over Training

Nonton film super-size Me-nya
Michael Moore, tentang McDonalds dan semua downsidenya, jadi inget sama
sebuah quote yang dulu terpampang megah di bemo corner, sudut bemo basa
indonya, di jalan legian (bukan legian street), kuta-bali, sebuah quote
di billboard Quiksilver Pro, yang berbunyi “balance is everything.”
Yup,
yang seimbang itu penting, yang selaras, in balance with surrounding,
yang ngepas, ga berlebih itu baik, bahkan segalanya, kata billboard itu.

Makan
ga berlebih, ga bakal ada masalah dengan lambung, dan all those things
inside. Ga bakal ada masalah dengan kolesterol, napas ngap-ngapan,
ukuran celana ga pas, hingga bau badan..(beneran nih..:p )

Semuanya ga berlebih, maka hidup itu akan selaras.

Namun,
sekali lagi terkadang selaras ga akan terasa cukup, bahkan selaras itu
terasa ga imbang, ga memenuhi letupan-letupan katup adrenalin di tubuh
kita. Bahkan sesuatu yang ngepas, yang standard, yang rutin, yang
omigod, mediocre, pasti terasa engga lo banget kata MTV.

Inget
kata selaras, hal pertama yang melintas dalam pikiran aku adalah: dull
morning, bangun dengan perasaan kuyu, secara otomatis ke toilet, minum
air putih, mandi, dan bikin kopi. Yang tumpul, yang layu, yang ga
ceria. Ga ada challenge.

Memang, semuanya harus pada porsinya,
selaras, hubungan kita dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan
(tri hita karana, betul ga sih? .. ) otherwise, seperti yang terjadi
belakangan ini, pemanasan global, tenggelamnya pulau-pulau kecil, dan
banyak hal mengerikan lainnya. Jika mau nebang, harus mau nanam.
Tapi
jika hubungan kita dengan semangat kerja, dan produktivitas, dan
motivasi, maka alangkah ga benarnya, filosofi semua sudah ada porsinya,
menurut aku, memang there is no such thing as perfect thing, perfect
body, perfect government, perfect combination (kecuali proporsi agung
Da Vinci), perfect policy, karena pasti ada plus, ada minusnya, pasti
ada yang negatif dari sekian hal yang positif, tapi semangat semua
sudah ada porsinya, semangat “nrimo” ini adalah semangat yang salah,
semangat yang kalah, semangat orang terjajah. Kita, human being,
makhluk berakal, haruslah terus melakukan inovasi terhadap diri
sendiri, memperbaharui diri sendiri, keep us up to date, sehingga kita
telah melakukan klaimisasi penting, yaitu kita bukanlah generasi
pe”nrimo”, yang nerima aja.

Selaras berarti sempurna, (nyanyi
bentar akh: kau begitu sempurna.. Andra & The Backbone hehehhe),
perfect balancing, yang disukai orang-orang akunting, dan team finance
di perusahaan gw (how the hell i suppose to get a receipt at small
warong? Hihaihaiha). Yang mana, satu-satunya dari sekian hal yang
menurut gw “penting” di kampus ekonomi dulu adalah bahwa THERE IS NO
SUCH THING AS PERFECT COMPETITION, karena pasar persaingan sempurna,
hilangnya invisible hands, campur tangan pemerintah dari pasar itu,
akan berakibat pada penjajahan gaya baru, yaitu tunduknya kepala kita
terhadap kaki-kaki ekonomi gurita raksasa Negara Madjoe,(atau trans
national corporation) alias Neoliberalisme.

So, menurut
gw, perlu banget sekali-sekali untuk “disturbing the peace” motonya
clothing SMP (sex, money, power), sekali-kali untuk lompat pagar,
sekali-kali untuk merubah kebiasaan, mengubah kanan jadi kiri, keluar
untuk masuk, dan turun untuk naik. Sekali-kali dengan spirit semangat
adrenalin, jiwa muda, dengan energi lebih, jiwa-jiwa yang punya jaman,
haruslah memompa, giving everything their got, untuk melakukan sesuatu
yang menurut mereka, mulia dalam kadarnya.

Ketidakselarasan ini yang gw maksud. LOMPAT! JuMP UP!
Artinya
mengejar mimpi kita, engga nerimo, dengan sepenuh tenaga, sekuat
tenaga, dengan power penuh di tangan dan suara menggelegak dan bara api
di dada, merubah keselarasan, living our dreams.
Ketidakselarasan ini yang gw maksud.
Chaos.
Dengan Chaos untuk mencapai Order.
Inilah seninya overtrained, overworked, to become over the top.

(jakarta, 21.27 malem, while someone is transiting on east java airport, and “spaceboy-smashing pumpkins” is on the air)

ada tempat bermain baru..

February 4th, 2008 by mao1876

liat juga posting gw di
http://mch1876.blogspot.com

ya…

Dsc00042_1

HARAPAN

December 26th, 2007 by mao1876

Harapan..

Kehidupan lengkap
sudah..

 

 

Salah satu
pelengkap dari urban living adalah city home. Or at least near the City with
capital C. Aside than kendaraan, maka primary needs di urban lifestyle adalah
rumah. Setelah spending almost two weekend straight, muter-muter, bergaul akrab
sama petugas-petugas pemasar apartemen, dan city home, sebegitu sering hingga
brosur dan price list numpuk di kursi belakang mobilku..

This is too much,
kepala pusing, keringat dingin, dan langkah gontai, adalah the result.

 

Rumah-rumah
impian, ternyata begitu didekati tidaklah menjadi begitu impian, begitu
melengkapi hidup, begitu akrab, begitu nyata, ;p selalu ada yang menjadi nilai
kurang, banjir threat, surrounding neighborhood, dekat sama sekolah, rumah
sakit, dan mall, dsb.dst.dll

 

Jadi untuk
melengkapi hidup apalagi di tengah kehidupan urban city lifes, tidak mudah
juga, karena apa yang tersedia semua, yang lengkap, itu tidak datang dalam
package yang mudah apalagi murah.

 

Ada prosedur
berbelit, petugas yang ga ramah, fleksibilitas pengembang, dan bermacam-macam
lainnya.

 

Memilih rumah
impian atau semata-mata rumah tinggal adalah seperti memilih pasangan hidup,
demikian kata salah seorang rekan seangkatan di kampus dulu. We have to be
sure, as hell, karena kita akan bersama dengan dia, dari saat kita bangun
hingga saat kita tidur lagi. Karena rumah seperti pasangan adalah our last
sanctuary, tempat dimana kita bisa menjadi diri sendiri, dan menyimpan semua
moment private kita.

 

Dan berpisah saat
telah bersama, akan sangat costly nantinya, dan memakan banyak konsentrasi, dan
waktu, dan usaha kita. Apalagi jika kita harus melakukan pilihan-pilihan lagi
dimulai dari square one.

 

Itulah mungkin
sebabnya, banyak yang memutuskan untuk tetap “melajang” hingga usia yang tidak
terbilang muda lagi. Banyak yang masih mendekam, tersuruk dalam kamar-kamar
kecil kost-kostan di sekitar kantor, dan memutuskan untuk spending times
bergonta-ganti pasangan atau bergonta-ganti mobil, yang bisa didandani, yang
bikin kita cool saat kita go out, yang menaikan status hidup sosial kita dimata
publik, dan disaat kita bosan, kita bisa menjualnya, dan memilih mobil yang
lain, dengan mudah, no fuss.. no delicate divorce trials..

 

Apakah ini
cerminan dari masyarakat urban yang ga mau pusing? Yang memilih semua hal
dengan instan? Mulai dari mie, hingga kartu kredit. Yang ga mau sedikit
menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang mencari solusi, atau menghabiskan
waktu perjalanan dari rumah hingga kantor atau tempat kerja?

Yang ga mau
berbelit-belit, melakukan pendekatan, atau kata sebuah film, Fast Car dan Fast
Girls.. yang ga memerlukan perawatan, karena proses bayar listrik,
bersih-bersih rumah, hingga bersosialisasi dengan orang tua si istri atau
tetangga di kompleks perumahannya, tidaklah diperlukan. Selama si cewek itu,
yang sekalipun memerlukan perawatan seperti mobil, tetaplah jadi cewek or just
mere girlfriend, bukan istri, mobil bukan rumah.

 

Jangan
mengerenyitkan dahi dulu, belum saatnya ngobrol soal feminisme (jika ada waktu
undang ya, miss those hardcore discussion about anything…) ini adalah sebuah
analogi nyeleneh, yang simple, dan ga perlu mikir kaya analoginya Mokik..
J

 

Dan mobil ataupun
cewek kita akan bertambah tua, demikian juga kita. The need for nesting, untuk
punya sarang, kaya mamalia lainnya, pastilah ada. Dan akan ada saatnya kita
akan lelah untuk bergonta ganti cewek dengan yang lebih muda, atau mobil yang
lebih baru, karena tenaga dan cc mobil yang lebih baru, terkadang berlebihan
untuk konsumsi the old us.. sekalipun mentereng dan bikin kita wah di mata
publik, namun in the end, kita memang memerlukan a place we could called home,
dan tempat untuk resting, yang hanya bisa di berikan oleh mereka yang telah
lama bersama dengan kita, dan mengerti kita, dan tidak memerlukan proses adaptasi
yang terkadang mulai melelahkan seiring dengan bertambahnya umur kita.

 

So.. once we have
found our Compatible Partner for Lifes, now its about time, kita melakukan
proses mencari our place we could called home, a place where we could placed
our heart together with the one we love, coz home is where your heart is.

 

achtung.. ngedumel

November 18th, 2007 by mao1876

[soundtrack: rum
raisin chocolate ice cream]

Yup..

 

Kondisi: abis
ujan, overwhelming feelings that beats orgasm
:)

 

Ok.. lets begin..

 

Belakangan ini gw
dipenuhi oleh rasa muak, karena di belejeti oleh statistik. Eneg yang membuat
your inside organ jumps into your throat. Get sick sama orang-orang munafik,
dan back stabber, yang banyak mulut cuap cuap soal demokrasi, tapi takut sama
nasi di piring, dan punya mentalitas birokrat dan tentara, atau get sick sama
orang-orang yang sebenarnya “ga berkemampuan”tapi boasting around, kaya mereka
yang own the world. Tapi itu sih menjadi biasa, ketika belakangan ini, dimulai
dari aksi-aksi anti globalisasi di bali sono, sampai kemarin-kemarin ini.

 

Yup, kebencian
yang bukan rasis, tapi memang sih melakukan pendekatan terbalik dalam
generalisasi, tapi memang menjadi semacam kenyataan bahwa bangsa kita
sebenarnya masih terjajah secara mentalitas, huehuheuh ga perlulah ngutip
Gramscy, yang bukunya dicuri orang-orang
yang melakukan praktek dominasi dalam kehidupan mereka sendiri
, tapi sekali
lagi jadi eneg karena statistik membuktikan bahwa kita masih belum mampu untuk
berdiri sendiri, masih terlalu kagum sama expat-expat, masih belum percaya pada
kemampuan generasi muda, unless mereka lulusan “luar negeri” sekalipun di nagri
orang tersebut, mungkin masuk di kampus unkown, with GPA zero point to four, or
even jadi eXtacy dealers, tapi once go back to these islands we called nation,
than peoples starting to respect them, kaya di film idiocracy, orang yang
paling bodoh tend to idiot ternyata di future jadi yang paling pintar karena di
future semua kemampuan otak manusia lebih turun lagi, (watch KORN clips and
laugh your heart off or even watch IDIOCRAZY ).

 

Ga hate kaya
lagunya NOFX, tapi just hate the way they present themself, and more to
ourselves, who always positioned ourselves below em.

 

Aku pernah baca
bahwa Dulunya peradaban itu actually di mulai dari Timur, dan kemudian dijarah
dan dikembangkan oleh Barat, tapi kenapa hingga sekarang ini, in this part of
Eastern society, belum adanya perkembangan-perkembangan yang berarti, bahkan
we, our peoples, menjadi below them secara nyata lewat buruh-buruh migran, bahkan
hingga ke negara serumpun kita.

 

Sambil merenungi
hal ini gw coba berjalan, ada lagu Starlight dari Muse di earphone gw, dan
sampailah di Pom Bensin Shell, yang bersih, dan ramah, dan start from zero
counter, dan ngisi angin ban gratis. Memang ironis, setelah pom bensin Belanda
ini mulai merambah dengan unjuk gigi profesionalismenya, maka barulah Pertamina
kebakaran jenggot, dengan program pasti-pasnya.. Singkat cerita, gw isi bensin,
dan membayar sesuai dengan yang diisi dan dimintakan dan diluar pecahan bulat,
maka gw menggunakan uang receh 500 rupiah. But tanpa disangka penjaga pom
bensin Shell, memberikan senyum sinis, sambil menerima uang tersebut. Aku
garuk-garuk kepala dan langsung pergi dari situ sambil membuat mental note.

(mungkin to
compete langsung ga berhasil, maka our nation melalui our peoples akan mencoba
merusak sikap profesionalisme perusahaan asing yang notabene true, hmmm)

Away from Shell,
menuju sebuah counter pulsa, ini adalah counter diluar counter resmi perusahaan
telko tersebut. Ketika menerima kembalian, tanpa pikir panjang gw langsung
bilang terimakasih dan pergi, ga taunya dengan sangat tidak ramah, si penjaga
toko marah dan bilang bahwa kembaliannya lebih. WTF, its your F@cking Fault..!! no wonder.. ckckck, jika mau jadi petty borjuis, be a
good petty borjuis, watch and learn.. FYI Customer is A KING!!!

 

So, berbekal 2
experiences itu, gw langsung pulang, merenung bentar sambil menyeruput my
evening coffee. Dan ada berita soal BULLYING dan GENG MOTOR yang baru muncul
lagi belakangan ini. Halah, duh generasi muda kita, apakah mereka juga sudah
“menjajah” pemikiran generasi muda kita lewat film-film itu?

 

SO maybe, perlu
ada sebuah perubahan sikap mental yang luar biasa, yang lebih dari sikap
profesionalisme yang kerap didengungkan itu., untuk membangun our nation, our
country. Dan ada yang berasa hilang di bagian tubuh gw yang bernama hati,
karena untuk sekali ini, gw percaya statistik, dan bahwa akan sangatlah sulit
bagi kita untuk berdiri sejajar dengan “mereka” oknum bangsa-bangsa asing,
karena dari sikap mental massa akar rumput kita hingga keluarga-keluarga kita,
masihlah punya mentalitas feodal, yang kata Gandul, merupakan warisan Orde Baru
juga.

So jadi mungkin,
Orde Baru dan keluarga-keluarga penghamba bangsa asing itu memang ga pernah
intended untuk menjadikan kita bangsa yang maju??

 

Aku berpikir
sambil geleng-geleng kepala dan menyeruput kopi hitam produksi asli bangsaku..

 


niu bunniez..

November 14th, 2007 by mao1876

hmmm

my previous posts in FS, tend to be serious ones..
so, maybe its time to loosen up a bit..

well, here’s my brand new rabbits..

Img000080_1

his name is Mini, male, born 8 May 2007

Img000084_2
her name is Kyusake, female, born 15 July 2007

both were adopted today, November 14, 2007

Boys Toys

November 9th, 2007 by mao1876

my room? my gadget? mmm dikit aja sih.. baru tau how to post a pic di fs..

Dscf0163
Dscf0276_1

Road Block..

November 4th, 2007 by mao1876

Pa0052
Road Block

 

Anger ..hostility towards
the oposition
(RATM-Anger)

 

Quite surprising,
buat aku, yang merupakan bagian dari Old Skool Family di Indo ini, bahwa
ternyata masih terdapat dan (banyak) terdapat nilai-nilai lama yang dianut
dalam keluarga di Indo.

 

Dan sialnya,
nilai-nilai lama itu adalah nilai yang negatip. Yang benar-benar mencerminkan
kediktatoran keluarga masa lampau, yang begitu berkuasa atas hidup dan matinya
si anak, dan seolah mengetahui batasan yang jelas antara baik-buruk,
benar-salah, dan neraka-surga.

 

Pemberontakan di
kampus-kampus di Prancis sono dulu jaman 60’an, hingga Gerakan Yang Katanya
Gagal 98 di Indo, pernah dilakukan sebuah penelitian yang akhirnya menyimpulkan
bahwa rata-rata mahasiswa yang terlibat aktif di gerakan tersebut, menentang
kediktatoran orang tua mereka pada mulanya.

 

Nano Technology,
Fiber Optic, Bush is a liar, ternyata tidak semata-mata menjadikan millenium
ages ini kemajuan bagi beberapa gelintir mereka yang hidup di jaman batu
kemajuan teknologi informasi.

 

Seperti
ruang-ruang tengah jam 4 sore di Yaman Selatan, dimana dominasi kaum laki-laki
yang bersantai dan menghisap shisha, begitu kental disegala pelosok, sedangkan
kaum wanita berada di belakang, terpinggir, dan terlupakan, terpanggil hanya
ketika diperlukan untuk melayani. Demikian juga hal yang gw termui dalam sebuah
sosok keluarga di sebuah kota di republik ini.

Sedemikian hingga
jika wartawan Jakarta Post yang ngeliput Yaman itu menemui keluarga inipun dia
akan terhenyak, karena stone age masih ad di bumi manusia ini.

 

Kekentalan nilai
budaya warisan leluhur yang sangat dibenci para tokoh Pergerakan Indonesia.
Nilai budaya warisan leluhur yang sebenarnya merupakan nilai-nilai pembodohan
bangsa, warisan kolonial, atau bahkan warisan jaman kaisar dulu di China. Ada
banyak sekali pembahasaan yang dapat kita salin di sini, mengenai sebuah kata
yang sama yaitu “pembodohan terstuktur.”

Karena: Kaisar
atau kerajaan puritan China, Orde Baru, Rejim Korea Utara, Stalin, Para
bangsawan dan kardinal Geraja Katolik Abad Pertengahan, hingga orang-orang bule
pertama yang menginjakkan kaki di bumi para Indian, menggunakan bahasa ini,
menciptakan warisan leluhur, adat KeTimuran yang tolol, hidup untuk Surgawi,
Hidup untuk Pemimpin Tertinggi, dan yang lain daripada itu disebut heretic,
menyimpang, subversif, hingga kontra revolusioner.

 

Dan herannya,
dengan loyalitas yang hampir sama ga masuk akalnya dengan kesetiaan para
prajurit Jepang yang bertahan hidup di Hutan Kalimantan, 20 tahun setelah
Hiroshima dan Nagasaki, dan yakin bahwa the war is not over, masih ada di jaman
serba cepat, di jaman ketika milyaran dollar dapat berpindah dari satu negara
ke negara lain, atau dari produk dan perusahaan ke barang dan jasa, dan
perusahaan lainnya dalam hitungan detik, di jaman ketika, ada beberapa jet yang
melebihi kecepatan suara, di jaman Smart Phone, di jaman dimana petani teh
sudah mengunakan fasilitas internet, masih ada keluarga-keluarga terbelakang
jaman batu yang memikirkan how to safe their own ass, how to build their family
fortune based on trickery, how to press your children to become your
moneymaker, even if it means to sell them, and forced them to work in sweat
shop factory.

Forget China,
dengan buku-buku Inside Beijing or so, yang menggambarkan kebobrokan dibalik
kemegahan Beijing, Forget India, dengan child labornya, Forget Thailand dengan
sex under agenya. Indonesia tetap ga luput dari yang namanya sebuah usaha
kebodohan terstruktur yang seharunya telah selesai diperangi jaman Soekarno
dulu, or pupus dengan sendirinya dengan kemajuan Teknlogi Informasi.

 

Dulu, jika tidak
dengan semangat yang tinggi untuk memerangi pandangan masyarakat mengenai
kehidupan di surga, pada Jaman Kegelapan, maka Renaissance di Eropa ga akan
pernah terjadi.

Jika tidak dengan
sebuah revolusi at all costnya Mao, dengan Gerakan Jauh ke Depan, dan Revolusi
Kebudayaan yang keji, maka Opium masih sangat menghancurkan China, dan budaya
leluhur yang bodoh masih akan hidup di rumah-rumah di China.

Jika tidak dengan
semangat ga kenal lelah, ngelupain kuliah, dibenci orang tua, dicap mahasiswa
pembangkang, maka Orde Baru masih tetap berkuasa.

 

Maka dengan
semangat yang sama, seharusnya pembodohan, ketololan, penghambaan kepada modal
asing, dan kemampuan intelektual Expatriat, dapat diatasi.

Penghambaan
kepada devisa, yang seharusnya vice versa di berikan dengan penghargaan kepada
para Buruh Migran Indonesia, tidaklah dilakukan.

Pencucian otak
bahwa engga ada cara lain selain ngejual pariwisata, exploitasi alam dan budaya
hingga titik nadir, penjualan anak-anak dan perempuan belia di tempat-tempat
obral seks di lokalisasi yang berhubungan dengan expat dan para turis tersebut.
Tengok Pelabuhan-pelabuhan di Papua, tengok kost-kostan anak-anak perempuan
belia peminta-minta di Kuta Bali, tengok lokalisasi di Sanur, Batam, Dolly, dan
banyak lagi, seharusnya dihapuskan dari bumi manusia kita tercinta ini.

 

Ada apa ini?

Jika
permasalahannya dapat ditelusuri hingga ke akar yang terdalam, dimana root ini
tercipta yaitu di keluarga, maka seharusnya para kepala Keluarga yang TIDAK
berhasil menanamkan nilai-nilai luhur SELF RESPECT, BERDIRI PADA KAKI SENDIRI,
dan SEMANGAT BERKETUHANAN seharusnya di Tembak mati. Dengan 32 team penembak
jitu, atau malah dipenggal, darahnya digunakan untuk mencuci bukit, tubuhnya
jadi makanan burung pemakai bangkai, dan kepalanya dikecilkan dan digantung di
tombak-tombak sebagai bukti orang-orang gagal yang merusak bangsa! (dapat ide
dari Apocalypto hueheuhe)

 

Keluarga-keluarga
yang tidak bisa menciptakan sebuah iklim kasih sayang yang ternyata telah
terbukti making the world goes round, seharusnya dikirim ke kamar gas berisi
belasan pitbull dan roh tertawa, karena mereka secara ga langsung telah
berperan dan punyal andil dalam kehancuran puluhan juta generasi penerus bangsa
kita ini,karena tidak mengajarkan kasih sayang, adalah notabene mengajarkan
kebencian, mengajarkan korupsi, perampokan, pemaksaan, pemerkosaan, pemerasan.

 

Jika hendak
membangun Indonesia, menjadi bangsa yang perkasa, bangsa yang mampu adapt, yang
mampu bertahan di tengah gempuran globalisasi dan modal asing, bangsa yang
dapat survive melewati this millenium age dengan mulus, dan engga
berdarah-darah, maka BANGUN DULU KELUARGA-KELUARGAnya..

BASMI PEMBODOHAN
DAN PAHAM LAMA

PRIORITASKAN
PENDIDIKAN dan PENGAJARAN KASIH SAYANG

Maka niscaya,
kita dapat menuju ke arah tujuan akhir pembangunan yang kita dah eneg dicekokin
dari SD hingga semester I kuliah.

 

BERANTAS
KELUARGA-KELUARGA BODOH!!

HENTIKAN
PENGHAMBAAN TERHADAP BANGSA DAN MODAL ASING!!

 

Jari tengah buat kalian, kutempuh
jalan yang sama saat kalian mengancam kami..!